Materi Pramuka

MENUJU INDONESIA LESTARI,

PRAMUKA BERKARYA DENGAN MEMBIBIT MAHONI (Swietenia mahagoni)

PENDAHULUAN

 

Buleleng merupakan salah satu kabupaten yang terletak di belahan utara pulau Bali memanjang dari barat ke timur dan mempunyai pantai sepanjang 144 km. Secara geografis terletak diantara 8003’40”- 8023’00” lintang selatan dan 144025’55’’-115027’28” bujur timur. Luas wilayahnya mencapai 1.365,88 km2 (136.588,00 ha) atau 24,25% dari luas wilayah Propinsi Bali dengan kawasan hutan seluas 51.436,21 ha. Potensi luasan hutan tersebut, berdasarkan data statistik kehutanan dan perkebunan kabupaten Buleleng terdapat 605,00 ha lahan sangat kritis, lahan kritis seluas 8.513,00 ha, lahan agak kritis 4.555,00 ha dan 37.186,00 lahan potensial kritis (Dishutbun: 2009).

Keberadaan hutan menjadi prioritas utama pemerintah Buleleng yang dalam hal ini menjadi tupoksi kerja Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) secara khusus, dan seluruh masyarakat Buleleng pada umumnya. Untuk  menyukseskan program rehabilitasi dan konservasi lahan, pemerintah telah melakukan berbagai kegiatan penanaman di daerah kawasan hutan maupun luar kawasan seperti Gerakan Penghijauan dan Konservasi Alam (GPKA).

Untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan kegiatan tersebut perlu didukung dengan persediaan benih berkualitas dalam jumlah yang cukup  dan berkesinambungan. penggunaan bibit yang bermutu untuk program penanaman masih sangat terbatas, ini menunjukkan keberadaan sumber bibit yang bermutu menjadi sangat penting. Jumlah sumber bibit pada saat ini masih sangat terbatas, umumnya masih mempunyai kualitas  genetik rendah dengan potensi produksi yang rendah pula. Pembuatan benih oleh masyarakat masih sangat kecil yang disebabkan oleh kurangnya sistem pengelolaan yang cukup. Pembuatan bibit tanaman dengan pola kemitraan antara pihak Dishutbun dengan masyarakat pada umunya dan generasi muda pada khususnya sangat diperlukan dalam perencanaan program pembibitan  tanaman. Hal ini perlu dilakukan karena disadari bahwa generasi muda mempunyai peranan penting dan strategis dalam upaya rehabilitasi, konservasi lahan dan pelestarian sumber daya alam (Warta Kwarnas: 2007).

Mengingat gerakan pramuka sebagai wadah pembinaan generasi muda dengan menggunakan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan, dianggap merupakan kelompok masyarakat yang perlu dijadikan mitra untuk mendukung kegiatan pembangunan kehutanan, pelestarian sumber daya alam, dan lingkungan hidup yang diwujudkan dengan pembentukan Satuan Karya Pramuka Wanabakti  (Saka Wanabakti) sebagai bentuk kerjasama antara Kwartir Nasional dan Departemen Kehutanan dan Perkebunan (Kwarnas: 1984).

Berkenaan dengan hal tersebut, Satuan Karya Pramuka Wanabakti Kabupaten Buleleng dalam binaan Kwartir Cabang Buleleng dan Dinas kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Buleleng telah menunjukkan kerja nyata dalam mewujudkan hutan lestari melalui kegiatan pembuatan bibit Mahoni (Swietenia mahagoni) yang dilaksanakan oleh anggota Saka Wanabakti pada gugusdepan/sekolah masing-masing.

PEMBAHASAN

Gambaran Umum Saka Wanabakti

Lahirnya Saka Wanabakti diawali dengan penandatangan piagam kerjasama Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dengan Departemen Kehutanan pada tanggal 27 Oktober 1983 oleh Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Let. Jen TNI (Purn) Mashudi dan Menteri Kehutanan Kabinet Pembangunan III Republik Indonesia Dr. Soedjarwo. Pembentukan Saka Wanabakti ditetapkan dengan Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka No.134 Tahun 1983, tanggal 10 Desember 1983. Pada tanggal 19 Desember 1983, Pimpinan Saka Wanabakti ditetapkan dan dilantik oleh Wakil Presiden RI, Umar Wirahadikusamah, pada kesempatan Upacara Puncak Penghijauan Nasional di Desa Pidpid, Karangasem Bali, yang sampai saat ini tanggal tersebut sebagai lahirnya Saka Wanabakti (Saka Wanabakti Nasional: 2005).

Tujuan dibentuknya Saka Wanabakti adalah untuk memberi wadah pendidikan di bidang kehutanan kepada anggota Gerakan Pramuka, terutama Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega agar mereka dapat membantu membina dan mengembangkan kegiatan pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup, melaksanakan secara nyata, produktif dan berguna bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega sebagai baktinya terhadap pembangunan masyarakat, bangsa dan negara (Kwarnas: 1984). Anggota Saka Wanabakti adalah:

Saka Wanabakti meliputi 4 (empat) krida sebagai satuan terkecil dan menjadi wadah kegiatan keterampilan tertentu (Kep. Kwarnas: 1984), yaitu : (1) Krida Tata Wana; (2) Krida Reksa Wana; (3) Krida Bina Wana; (4) Krida Guna Wana. Dalam pelaksanaan operasionalnya, ditentukan upaya pokok dan langkah-langkah pencapaian kecakapan masing-masing krida yang dijabarkan kedalam Syarat Kecakapan Khusus (Duryat, 2005).

Identitas Mahoni

Nama binomial Mahoni adalah  Swietenia mahagoni. Klasifikasi ilmiah tentang Mahoni ialah :

Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom    : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi    : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas               : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)

Sub Kelas        : Rosidae
Ordo                : Sapindales
Famili              : Meliaceae

Genus              : Swietenia
Spesies            : Swietenia mahagoni (L.) Jacq

Mahoni dapat ditemukan tumbuh liar di hutan jati dan tempat-ternpat lain yang dekat dengan pantai, atau ditanam di tepi jalan sebagai pohon pelindung, reboisasi dan penghijauan (Anonim, 2010) yang asalnya dari Hindia Barat ini, dapat tumbuh subur bila tumbuh di pasir payau dekat dengan pantai. Jenis yang tumbuh pada zona lembab; menyebar luas secara alami atau dibudidayakan; jenis asli Meksiko (Yucatan), bagian tengah dan utara Amerika selatan (Wilayah Amazona)

Pohon selalu hijau dengan tinggi antara 30-35 cm. Kulit berwarna abu-abu dan halus ketika masih muda, berubah menjadi coklat tua, menggelembung dan mengelupas setelah tua. Daun bertandan dan menyirip yang panjangnya berkisar 35-50 cm, tersusun bergantian, halus berpasangan, 4-6 pasang tiap-daun, panjangnya berkisar 9 – 18 cm. Bunga kecil berwarna putih, panjang 10-20 cm, mulai bercabang. Buah kering merekah, umumnya berbentuk kapsul bercuping 5, keras, panjang 12-15 cm, abu-abu coklat, dan halus. Bagian luar buah mengeras, ketebalan 5-7 mm bagian dalam lebih tipis. Dibagian tengah mengeras seperti kayu, berbentuk kolom dengan 5 sudut yang memanjang menuju ujung. Buah akan pecah mulai dari ujung atau pangkal pada saat masak dan kering. Biji menempel pada kolumela melalui sayapnya, meninggalkan bekas yang nyata setelah benih terlepas. Umumnya setiap buah terdapat 35 -45 biji. Kayu Mahoni ini termasuk bahan mebel bernilai tinggi karena dekoratif dan mudah dikerjakan. Dalam sistem agroforestry digunakan sebagai tanaman naungan dan kayu bakar.

Pembuatan Bibit Mahoni (Swietenia mahagoni)

Kegiatan ini dilaksanakan selama rentang waktu 6 bulan antara Agustus 2009 hingga Februari 2010 dengan dana berasal dari kas Wanabakti dan donator yang sifatnya tidak mengikat. Pembuatan Bibit Mahoni (Swietenia mahagoni) oleh anggota Saka Wanabakti Kwartir Cabang Buleleng meliputi beberapa tahap kegiatan yaitu: (1) tahap persiapan dengan tujuan mempersiapkan serta memberi pengetahuan awal kepada anggota tentang teknik pembuatan bibit dengan kualitas unggul. Tahap persiapan ini meliputi penyusunan rencana dan jadwal pembibitan, penentuan lokasi dan penyediaan sarana dan prasarana; (2) tahap pelaksanaan yaitu melaksanakan kegiatan pembuatan bibit Mahoni (Swietenia mahagoni)  di gugusdepan masing-masing sesuai teori yang diberikan meliputi pengadaan biji, penaburan biji, penyapihan, pemeliharaan dan pengangkutan; (3) Tahap evaluasi yaitu pengecekan/pemantauan hasil kegiatan pembibitan ke masing-masing gugusdepan oleh instruktur saka guna mengetahui hasil dan kendala yang dihadapi (Panitia Pelaksana: 2010). Adapun langkah-langkah dalam membuat bibit sebagai berikut.

Pengadaan biji

Untuk memperoleh produktivitas kayu dan mutu tegakan yang tinggi perlu diupayakan pemakaian bibit yang baik. Bibit yang baik diperoleh dari tegakan benih yang telah berumur lebih dari 20 tahun. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengadaan biji :

  1. Diambil dari pohon yang pertumbuhannya baik dan jelas asal usulnya
  2. Bermutu baik, sehat dan tidak terserang hama penyakit

Penaburan biji

  1. Sebelum dilakukan penaburan, sayap biji digunting. Media tabur yang digunakan adalah tanah dicampur pasir dengan perbandingan 2 : 1, kemudian disaring dengan kawat saringan berukuran 2 mm. Sebelum dipakai sebaiknya media tersebut disterilkan terlebih dahulu. Untuk mencegah serangan hama-penyakit, bedeng tabur dibuat setinggi ± 1 meter dari permukaan tanah. Penaburan benih dilakukan secara merata ke seluruh permukaan media dengan jarak 2 x 1 cm pada bedengan tabur ukuran 5 x 1 m atau 2 x 1 m. Biji ditanam tanpa sayap dengan bagian biji yang tebal sebelah bawah. Bedeng tabur diberi naungan.
  2. Cara lain penaburan biji dapat dilakukan ke kontainer atau kantong plastik yang sudah diberi lubang-lubang kecil. Pada cara ini tidak diperlukan penyapihan bibit, tetapi diperlukan penyulaman pada kantong plastik yang bijinya tidak tumbuh. Perlakuan selayaknya sama seperti bibit yang disapih. Untuk menjaga kelembaban pada bedeng tabur, harus dilakukan penyiraman secara hati-hati.

Penyapihan

Benih mulai berkecambah ± pada hari ke 5 setelah penaburan. Pada umur 2-3 minggu atau kecambah sudah mempunyai 2-4 helai daun dapat dipindahkan ke dalam kantong plastik dengan ukuran 8 x 15 cm yang telah diisi media dengan alat penjepit (Dephut: 2007). Media yang digunakan beragam, yang penting media tersebut berareasi baik dan cukup mengandung hara mineral, antara lain dapat berupa campuran tanah humus dan pasir atau tanah mineral, kompos dan pasir. Komposisi yang umum dipakai adalah campuran pasir, tanah dan kompos dengan perbandingan 7 : 2 : 1.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyapihan bibit antara lain :

  1. Pencabutan semai dari bedeng tabur harus hati-hati dan akar tidak boleh patah
  2. Semai ditanam dalam kantong plastik atau kontainer lain berdiri tegak dan akar semai jangan melipat.
  3. Semai terhindar dari luka
  4. Penyapihan dilakukan pada pagi hari atau sore hari dan dilakukan dibawah naungan (sarlon)

Bibit persemaian siap ditanam di lapangan setelah berumur ± 5 bulan. Ukuran tinggi bibit ± 25 cm (dari pangkal batang sampai ujung daun), bagian batang bibit berkayu, diameter bibit > 2 mm, sehat dan segar.

Pemeliharaan dan Pengangkutan

Untuk memperoleh bibit yang berkualitas baik dalam jumlah yang memadai, perlu dilakukan pemeliharaan setelah kegiatan penyapihan. Kegiatan ini berupa penyiraman, penyiangan dan pemupukan. Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari. Penyiraman dilakukan secara hati-hati, menggunakan sprayer gendong dengan butiran air halus (kabut). Penyiangan terhadap gulma yang tumbuh pada kantong plastik dilakukan setiap hari. Pemupukan pertama dengan NPK dilakukan sewaktu mencampur media tumbuh dengan dosis 1 gram (1 sendok teh) setiap kantong. Pemupukan kedua dan selanjutnya dilakukan setiap bulan dengan dosis yang sama.

Sebelum bibit diangkut ke lapangan terlebih dahulu dilakukan seleksi bibit untuk memilih bibit yang baik. Bibit yang akan ditanam sebaiknya dibiarkan selama 2-3 hari di tempat penampungan, dengan maksud memberi waktu bagi bibit untuk menyesuaikan diri dengan keadaan tempat tumbuh yang baru. Terhadap bibit ini perlu dilakukan perawatan seperti di persemaian, sehingga kondisi bibit tetap sehat dan segar. Dalam pengangkutan bibit agar diupayakan dalam pengangkutan bibit ke lapangan seaman mungkin dengan menyimpan bibit pada rak angkut (Dephut: 2006).

Penanaman dilakukan pada awal musim hujan, yaitu setelah curah hujan cukup merata. Pada saat bibit ditanam, kantong plastik dilepas secara hati-hati supaya media tumbuh tetap utuh. Kemudian bibit dimasukkan kedalam lubang yang telah disiapkan, ditutup kembali dengan tanah serta dipadatkan. Jarak tanam diatur seperti yang dianjurkan dalam rencana.

 

 

Gambar 1. Bibit Mahoni (Swietenia mahagoni)

Sumber: Panitia Pelaksana

Hasil dilapangan menunjukkan bahwa kegiatan pembuatan bibit Mahoni (Swietenia mahagoni) guna menghasilkan bibit dengan kualitas unggul dapat terlaksana dengan cukup baik. Sebanyak 70% atau 350 bibit Mahoni dapat dihasilkan dari 500 biji yang disemai. Benih yang tidak dapat tumbuh disebabkan oleh adanya genangan air akibat hujan serta penyiraman yang berlebihan. Bibit tersebut oleh anggota Saka Wanabakti Kwartir Cabang Buleleng disumbangkan kepada sekolah melalui penghijauan lingkungan, diberikan kepada guru dan ditanam pada areal kebun anggota sehingga dapat bermanfaat secara langsung terhadap pelestarian lingkungan (Panitia Pelaksana, 2010).

SIMPULAN

Berdasarkan pembahahasan diatas, simpulan yang dapat disampaikan bahwa pramuka satuan karya pramuka Wanabakti Kwartir Cabang Buleleng memiliki peran startegis dalam upaya terhadap kepedulian hutan menuju Indonesia lestari yang diwujudkan melalui kegiatan pembuatan bibit Mahoni (Swietenia mahagoni).

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim, 2010. Pembuatan Bibit. Tersedia pada http://www.bpprejotangantulungagung.co.id Diakses pada tanggal 20 Februari 2010.

Departemen Kehutanan, 2006. Penanganan Bibit. Pusat Standarisasi dan Lingkungan. Jakarta.

Departemen Kehutanan, 2007. Petunjuk Teknis Pembuatan Bibit Desa Pekraman (makalah tidak diterbitkan). Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Unda Anyar. Denpasar.

Dinas Kehutanan dan Perkebunan. 2009. Data Statistik Kehutanan dan Perkebunan. Buleleng.

Duryat, 2005. Kehutanan Umum dan Saka Wanabakti. Saka Wanabakti Tingkat Nasional. Jakarta.

Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, 1984. Keputusan Ketua Kwartir Nasional No. 05 tahun 1984 Tentang Petunjuk Penyelenggaraan Satuan karya Pramuka Wanabakti. Jakarta.

Panitia Pelaksana, 2010. Laporan Pertanggungjawaban Pembuatan Bibit Mahoni (Swietenia mahagoni) Tahun 2009. Buleleng: Dewan Saka Wanabakti Kwartir Cabang Buleleng.

Saka Wanabakti Nasional. 2005. Materi Pelengkap Krida Binawana. Jakarta: Sekretariat Pimpinan Saka Wanabakti Nasional.

Warta Kwarnas. 2007. Kader Pramuka Sangat Diperlukan Dalam Merehabilitasi dan Melestarikan Sumber Daya Alam. Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: